United Launch Alliance (ULA), penyedia jasa peluncuran militer telah memilih mesin baru untuk roket generasi baru mereka, yang diberi nama Vulcan. Perusahaan yang merupakan kerja sama gabungan antara Boeing dan Lockheed Martin akan menggunakan mesin yang diproduksi oleh Blue Origin, perusahaan penerbangan yang dikomandoi oleh founder dari Amazon, Jeff Bezos.

Mesin roket yang dikenal sebagai BE-4 ini sudah dikembangkan sejak 2011. Berbahan bakar oksigen cair dan metana cair, membuatnya sebagai mesin pertama dengan bahan bakar tersebut. Dan begitu selesai, setiap mesinnya akan menghasilkan energi dorong sebesar 550.000 pon (sekitar 249 ton). Blue Origin sendiri berencana untuk menggunakan BE-4 untuk roket selanjutnya, New Glenn. Mereka juga berebut untuk mendapat kontak dari ULA agar mesin mereka digunakan untuk Vulcan.

“Kami sangat senang dengan kerja sama ini dan menanti peluncuran pertama dari roket baru kami.” CEO dari ULA, Tory Bruno memberi pernyataan. CEO dari Blue Origin, Bob Smith juga memberikan pernyataan, “Kami tidak bisa memberikan cukup terima kasih untuk Tory Bruno dan seluruh tim United Launch Alliance karena telah mempercayai mesin kami untuk roket Vulcan mereka.”

Foto : spaceflightinsider.com

ULA mengumumkan pada 2014 bahwa mereka telah bekerja sama dengan Blue Origin serta ikut membiayai pengembangan BE-4. Namun, saat Blue Origin sedang sibuk mengerjakan BE-4, perusahaan manufaktur mesin lain, Aerojet Rocketdyne, juga ikut bersaing untuk menggunakan hardware mereka pada Vulcan. Perusahaan tersebut telah mengembangkan mesin mereka sendiri, AR1, yang dikhususkan untuk Vulcan dan ULA telah menunggu untuk memilih perusahaan mana yang akan diajak bekerja sama secara resmi.

Meski demikian, telah dilaporkan bahwa Aerojet Rocketdyne akan kalah dalam penawaran. Blue Origin telah lebih jauh dalam proses pengembangan, meskipun kecelakaan tahun lalu yang menyebabkan hilangnya perangkat keras selama pengujian. serta info terbaru dari pihak internal Aerojet Rocketdyne, menyatakan jika mereka akan menghentikan pendanaan untuk pengembangan mesin AR1, dan jika info itu benar terjadi maka Aerojet Rocketdyne tidak akan memiliki mesin yang siap untuk diterbangkan pada akhir 2019 nanti.

Perubahan mesin ini merupakan berita besar bagi ULA, yang berusaha mengganti mesin mereka sebelumnya yaitu RD-180, buatan Rusia yang digunakan untuk roket Atlas V. Setelah Rusia menjajah Crimea, terjadi ketegangan antara pihak Rusia dan Amerika Serikat, dan pada akhirnya kongres negara memutuskan untuk melarang penggunaan mesin-mesin buatan Rusia untuk satelit keamanan nasional.

Karena ULA yang memonopoli sistem peluncuran nasional, keputusan tersebut memberi dampak besar bagi mereka dan membuat mereka harus mencari mesin pengganti dari yang mereka gunakan sebelumnya. ULA pun memutuskan untuk membuat roket baru yang memiliki kemampuan yang sama dengan roket utama mereka, Atlas V dan Delta IV. Peraturan pelarangan diubah pada 2016, dengan pihak kongres mengizinkan ULA untuk membeli sampai dengan 18 unit RD-180 untuk digunakan sampai dengan 2022.

Foto : waff.com

ULA berencana untuk meluncurkan Vulcan untuk pertama kalinya pada 2020, dengan Blue Origin yang juga akan meluncurkan mesin mereka, New Glenn, sebelum akhir tahun.

Meskipun Aerojet Rocketdyne  kalah dalam penawaran, mereka juga disibukkan untuk membuat mesin utama untuk roket besar NASA berikutnya, Space Launch System, dan mereka juga masih memasok ULA untuk mesin utama dari roket Delta IV, dan juga mesin tahap lanjut dari roket mereka yang lain.

Juru bicara Aerojet Rocketdyne, Steve Warren mengatakan bahwa mereka akan tetap mengembangkan mesin AR1 dan akan siap diuji pada 2019.

LEAVE A REPLY