Review Aruna Dan Lidahnya : Film Yang Bisa Bikin Kelaperan

1
738

Hati-hati jangan terlalu antipati entar empati terus simpati terus jatuh hati.

Mungkin sedikit telat dalam membuat ulasan dari film ini, tapi sepertinya sayang sekali klo tidak mengulas film Indonesia yang satu ini karena ceritanya yang berbeda dan menarik untuk di ulas.

Sebelum mulai nonton ini ada baiknya AGers isi perut dulu atau beli cemilan untuk menemani nonton, kalau tidak siap-siap deh diganggu dengan perut yang berbunyi kelaparan karena efek dari film ini hehehe.

Setelah berhasil memproduksi film Posesif (2017), Palari Films beserta Edwin selaku sutradara kembali menyuguhkan sebuah karya terbaik yaitu Aruna dan LidahnyaFilm yang diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya Laksmi Pamuntjak. Film ini merupakan film keempat yang digarap oleh Edwin setelah Babi Buta yang Ingin Terbang (2008), Kebun Binatang (2012), Posesif (2017). Bisa dibilang film ini berbeda dari film-film sebelumnya, soalnya Aruna dan Lidahnya menawarkan lebih banyak dialog dan kuliner khas Tanah Air.

Foto : Instagram/@palarifilms

Cerita dari film ini diangkat dari persahabatan, rekan kerja, dunia kerja dan juga yang pasti dari sisi kulinernya karena kaitan kuliner itu dekat dengan lidah sebagai indra pengecap dan rasa. Dan sesuai dengan karakter orang indonesia dimana kalau ketemu dengan sahabat atau keluarga paling enak kulineran, ngumpul – ngumpul dan ngobrol menghilangkan penat.

Awal cerita dimulai dari Aruna (Dian Sastrowardoyo) yang diberikan tugas oleh atasnya untuk mencari akibat wabah dari penyakit flu burung yang sempat membuat kekhawatiran dimasyarakat Indonesia beberapa tahun yang lalu.

Dari sinilah petualangan Aruna dimulai bersama temannya Bono (Nicholas Saputra), yang nanti akan datang dua orang teman dan rekan kerja Aruna untuk memberikan warna warni petualangan yaitu Fariz (Oka Antara) dan Nad (Hannah Al Rashid), selama perjalanan tersebut banyak hal yang mereka bicarakan baik tentang filosofi atau idealis masing-masing. Aruna yang lugas tapi naif, Bono yang supel tetapi konyol, Nad yang ceria dan punya pemikiran liberal tetapi memiliki kesedihan di dalam hatinya, Fariz yang kaku dan strict to the rule tetapi punya rahasia yang sangat kelam.

Foto : Cosmopolitan.co.id by @PalariFilms

Difilm ini ada beberapa lokasi yang dijadikan tempat Aruna dan teman-temannya untuk bertugas dan berpetualangan kulineran dari Surabaya,Pamengkasan, Pontianak, Singkawang. Asli dari tempat – tempat ini kita jadi banyak tau kalau ternyata Indonesia itu amat sangat kaya dengan makanan khas setiap daerah dan juga budayanya. Efek dari film ini mimin dibuat makin ngidam sama coipan yang memang kesukaan mimin dan penasaran sama pengkang dan itu lorjug yang awal dikirain kerang bambu, ternyata beda jenis walau sepintas itu mirip.

naksir-naksir sebel

Untuk pembabakan dan alur ceritanya sederhana tapi film ini penuh dengan detail dan isu-isu sosial yang dikemas seringan mungkin sehingga kita bisa ketawa, senyum-senyum simpul sendiri apalagi ada tag line naksir-naksir sebel dan ada apa sebenarnya, hati-hati jangan terlalu antipati entar empati terus simpati terus jatuh hati.

Dari 4 karakter di film ini saling melengkapi walau masing-masing karakter tersebut punya ciri khas dan karakter yang kuat. So after all apakah film ini layak dan wajib kudu di tonton tentu saja karena ini film Indonesia yang berbeda bukan cerita romantis yang menya menye, soundtrack yang berhasil membuat nostalgia masa lalu dan terutama makanan yang diulas dari para pemain itu membuat kita dijamin ngiler.

1 COMMENT

  1. Greetings! I’ve been reading your blog for some time
    now and finally got the bravery to go ahead and give you a shout out
    from Lubbock Texas! Just wanted to say keep up the excellent job!

LEAVE A REPLY